marketingcollections – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menahan diri untuk tidak membuat prediksi tentang kapan konflik dengan Iran akan berakhir. Ia menegaskan bahwa Washington siap melanjutkan serangan selama diperlukan untuk mencapai semua tujuan yang telah ditetapkan.
“Saya tidak bisa memberi tahu Anda itu. Maksud saya, saya punya ide sendiri… (Konflik dengan Iran) itu akan berlangsung selama masih diperlukan,” kata Trump kepada wartawan, Minggu (15/3/2026).
Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas antara AS-Israel melawan Iran. Ketegangan mencapai titik didih sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Operasi tersebut menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei .
Serangan Mematikan dan Korban Sipil
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan itu tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga menewaskan ratusan warga sipil. Iran mencatat lebih dari 555 orang tewas akibat serangan tersebut, di mana lebih dari 200 di antaranya adalah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar .
Insiden paling tragis terjadi di Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan. Serangan rudal menewaskan 175 siswi dan melukai lebih dari 95 anak lainnya . AS kemudian mengaku salah target dan menyebut kesalahan berasal dari data intelijen usang yang diproses dengan sistem AI .
Iran mengecam keras serangan tersebut sebagai kejahatan perang. “Anak-anak tak berdaya ini, yang hanya hadir di kelas untuk belajar dan membangun masa depan yang cerah, menjadi korban kekerasan akibat serangan rudal,” kata Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi .
Balasan Iran dan Eskalasi Konflik
Iran menanggapi serangan brutal itu dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan peluncuran gelombang ke-52 Operasi “True Promise 4” yang menargetkan pangkalan militer AS di Irak dan Kuwait .
IRGC mengklaim telah menghancurkan titik kumpul pasukan AS di pangkalan Harir di Erbil, Irak. Selain itu, serangan juga diarahkan ke pangkalan Ali Al Salem dan Arefjan di Kuwait . Iran juga menembakkan rudal salvo ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Al-Kharj, Arab Saudi, yang digunakan untuk melengkapi pesawat tempur F-35 dan F-16 milik AS .
Pada Minggu (15/3), Iran kembali meluncurkan serangan rudal ke Israel. Radio Angkatan Darat Israel menyebut militer berhasil mencegat sebagian besar rudal, namun beberapa proyektil dilaporkan jatuh di area terbuka dan memicu kebakaran di kota Ramla .
Target Tersembunyi: Penggantian Kekuasaan
AS dan Israel awalnya mengklaim serangan “preemtif” mereka diperlukan untuk melawan ancaman dari program nuklir Iran. Namun, mereka segera memperjelas bahwa tujuan sebenarnya lebih dalam: ingin melihat penggantian kekuasaan di Iran.
Meskipun serangan awal berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, rezim Iran tidak runtuh. Majelis ulama senior Iran dengan cepat memilih Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru . Sebagai penerus ideologis, Mojtaba menegaskan sikap persatuan nasional sekaligus perlawanan keras terhadap musuh-musuh Teheran.
Menurut analisis Kompas TV, AS secara taktis berhasil melancarkan serangan ke target-target utama, termasuk menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Namun, secara strategis AS belum berhasil mencapai tujuan utamanya karena Iran tetap bertahan dan terus melawan melalui serangan rudal .
Peringatan dari Dalam Negeri
Di tengah narasi kemenangan yang digembar-gemborkan Gedung Putih, seorang penasihat senior Trump justru mengeluarkan peringatan langka. Penasihat AI dan mata uang kripto Gedung Putih, David Sacks, mendesak AS untuk mencari jalan keluar dari konflik sebelum semakin meluas.
“Ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan kemenangan dan keluar,” kata Sacks dalam podcast “All-In” . Ia memperingatkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk membalas dengan cara yang dapat menggoyahkan seluruh kawasan Timur Tengah.
Sacks menguraikan skenario mengerikan jika Iran menyerang infrastruktur minyak Teluk dan pabrik desalinasi yang memasok air minum di seluruh Semenanjung Arab. “Saya pikir ada sekitar 100 juta orang di Semenanjung Arab yang mendapatkan air mereka dari desalinasi,” katanya. Kerusakan pada fasilitas tersebut akan menciptakan konsekuensi kemanusiaan yang “benar-benar bencana” .
Blokade Selat Hormuz dan Respons Global
Iran kini menguasai Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Lebih dari 17 juta barel minyak mentah, atau sekitar 20 persen dari total produksi minyak global, melintasi jalur ini setiap hari . Penutupan selat ini telah mengganggu pasokan minyak dunia dan memicu kenaikan harga.
Trump mendesak negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz guna membuka blokade. “Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut dan kami akan membantu,” tulis Trump di Truth Social .
Trump berharap China, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak akan mengirimkan kapal perang. “Sementara itu, AS akan membombardir garis pantai habis-habisan dan terus menembak jatuh kapal-kapal Iran. Dengan cara apa pun, kita akan segera membuka Selat Hormuz, menjadikannya aman dan bebas,” katanya .
Kementerian Pertahanan Inggris merespons dengan pernyataan hati-hati: “Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, kami saat ini sedang berdiskusi dengan sekutu dan mitra kami tentang berbagai opsi untuk memastikan keamanan pelayaran di wilayah tersebut” .
Syarat Perdamaian dan Jalan Buntu
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan tiga syarat utama untuk mengakhiri konflik: pengakuan atas hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan internasional terhadap agresi di masa depan . Namun, baik AS maupun Israel belum memberikan respons resmi.
Trump mengklaim Iran telah menghubunginya untuk membahas kemungkinan kesepakatan damai. Namun, ia menilai syarat yang diajukan belum terpenuhi. Trump menegaskan setiap kesepakatan harus mencakup syarat agar Iran menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklirnya .
Sementara Trump menyatakan dapat mengakhiri perang kapan saja, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memberi sinyal berbeda. Ia mengatakan operasi akan berlanjut tanpa batas waktu, selama diperlukan hingga semua tujuan tercapai .
Melihat tujuan strategis yang bertolak belakang, kesepakatan damai tampaknya sulit dicapai dalam waktu dekat. Trump mungkin memiliki “ide sendiri” tentang kapan perang akan berakhir, tetapi realitas di lapangan menunjukkan konflik masih jauh dari resolusi. Dengan ribuan korban jiwa, infrastruktur hancur, dan jalur energi global terganggu, Timur Tengah kini berada dalam ketidakpastian yang dalam.
“Baca Juga : Remitansi Mengalir Deras di Balik Tradisi Mudik Lebaran”
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas di Hari Pertama Serangan, Iran Umumkan 40 Hari Masa Berkabung Nasional
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dilancarkan pada 28 Februari 2026. Serangan yang menargetkan kompleks kediamannya di Teheran tersebut menewaskan tokoh sentral yang telah memimpin Iran selama 37 tahun .
Pemerintah Republik Islam Iran segera mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai bentuk penghormatan atas gugurnya pemimpin tertinggi ketiga dalam sejarah revolusi Iran itu. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Khamenei tewas dalam serangan udara masif yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat tepat di kantornya pada Sabtu pagi, 28 Februari .
Operasi Militer dan Dampak Langsung
Serangan gabungan AS-Israel yang diluncurkan Sabtu pagi itu diklaim bertujuan untuk menghapus “ancaman” yang ditimbulkan oleh Iran terkait program nuklirnya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataan video menyebut militer telah melancarkan serangan kejutan besar-besaran yang menghancurkan kompleks kediaman Khamenei .
“Pagi ini, dalam serangan kejutan yang kuat, kami menghancurkan kompleks tiran Khamenei. Ada banyak tanda bahwa tiran ini sudah tidak ada lagi,” ujar Netanyahu .
Layanan darurat Iran melaporkan sedikitnya 201 orang tewas dalam serangan itu. Korban tewas mencakup sejumlah pejabat keamanan senior serta anggota keluarga Khamenei, termasuk putrinya, menantu laki-lakinya, dan seorang cucunya . Media Amerika menyebut penyelidikan awal militer AS menduga serangan terhadap sebuah sekolah di kota Minab terjadi akibat kesalahan penargetan di dekat fasilitas militer .
Respons Iran dan Serangan Balasan
Menanggapi gugurnya sang pemimpin, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan keras. IRGC mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran” sebagai bentuk pembalasan atas agresi rezim Zionis dan Amerika Serikat .
Iran segera meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa serangan balasan tersebut merupakan tindakan terukur yang hanya menargetkan situs-situs militer .
Masa Berkabung Nasional 40 Hari
Pemerintah Iran resmi mengumumkan 40 hari masa berkabung dan meliburkan seluruh aktivitas kerja selama satu minggu menyusul syahidnya Pemimpin Tertinggi . Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidato rekaman yang disiarkan televisi pemerintah pada Minggu (1/3) mengecam pembunuhan Khamenei sebagai “kejahatan besar” .
Ayatollah Ali Khamenei merupakan sosok sentral yang memegang jabatan pemimpin tertinggi sejak tahun 1989, setelah sebelumnya menjabat sebagai presiden pada periode 1981-1989. Kepergiannya menandai akhir dari masa jabatan pemimpin negara terlama di kawasan Timur Tengah .
Proses Suksesi Kepemimpinan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa negaranya hanya membutuhkan sekitar dua hari untuk memilih pemimpin tertinggi baru. Dewan transisi yang terdiri dari presiden, kepala lembaga peradilan, serta seorang ulama dari Dewan Garda segera dibentuk untuk menjalankan fungsi kepemimpinan hingga pemimpin baru terpilih .
Pada 8 Maret 2026, Majelis Pakar Iran secara resmi melantik Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran. Pelantikan ulama berusia 56 tahun itu dilakukan sesuai prosedur konstitusional melalui pemungutan suara di Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama .
Mojtaba sendiri selamat dari serangan yang menewaskan ayahnya, meskipun mengalami luka-luka. Ia turut kehilangan ibu, saudara perempuan, abang ipar, anak saudaranya, serta istri dan seorang anaknya dalam serangan tersebut .
Implikasi Geopolitik
Krisis kepemimpinan ini terjadi di tengah eskalasi konflik terbesar antara Iran dengan AS-Israel dalam beberapa dekade terakhir. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan melontarkan ancaman terselubung untuk membunuh pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei .
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei sebagai tindak pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia mengutuk operasi Amerika-Israel itu dan menyerukan segera dilakukan deeskalasi dan penghentian permusuhan .
Dengan tewasnya pemimpin tertinggi yang telah berkuasa selama hampir empat dekade, Iran kini memasuki babak baru dalam sejarah politiknya di tengah tekanan perang dan ketidakpastian domestik maupun internasional.
“Baca Juga : Pemkab Bogor Pastikan 9.867 PPPK Paruh Waktu Terima THR”




Leave a Reply