Seskab: 5 Pesawat TNI AU Diterbangkan ke Kalimantan Tangani Karhutla
TNI AU Tambah Armada Udara untuk Tangani Karhutla di Kalimantan
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan lima pesawat TNI Angkatan Udara (TNI AU) kembali dikerahkan untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Lima pesawat tersebut berangkat dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada Jumat siang. Armada itu menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk membantu operasi penanganan karhutla di wilayah terdampak.
Teddy mengatakan pengerahan pesawat TNI AU menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat operasi udara bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Lima Pesawat TNI AU Perkuat Operasi BNPB
“Lima pesawat TNI AU kembali diberangkatkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk memperkuat 30 armada BNPB,” kata Teddy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Menurut Teddy, 30 armada BNPB tersebut sebelumnya telah beroperasi di tiga provinsi di Kalimantan yang terdampak karhutla.
Selain mengirim lima pesawat dari Malang, TNI AU juga menyiagakan sejumlah pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Armada cadangan tersebut dapat digerakkan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan BNPB dan kondisi di lapangan.
Langkah tersebut memungkinkan pemerintah menyesuaikan kekuatan operasi udara dengan perkembangan titik kebakaran. Penempatan armada secara bertahap juga mendukung percepatan respons ketika terjadi peningkatan aktivitas karhutla.
52 Pesawat Dikerahkan di Enam Provinsi
Pemerintah memperluas penguatan operasi udara karena karhutla masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Teddy menyebut Kepala BNPB Suharyanto melaporkan sebanyak 52 pesawat telah dikerahkan untuk mendukung operasi penanganan karhutla di enam provinsi.
baca juga: Kronologi Kecelakaan Maut Mercy Terbakar di Tol Jagorawi
Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Armada Dibagi untuk Wilayah Sumatra dan Kalimantan
Dari total 52 pesawat yang dikerahkan, sebanyak 30 pesawat beroperasi di wilayah Kalimantan. Sementara itu, 22 pesawat lainnya menjalankan operasi di wilayah Sumatra.
Armada udara tersebut terdiri atas berbagai jenis pesawat dan helikopter. Pemerintah menggunakannya untuk mendukung patroli, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta pemadaman karhutla melalui metode water bombing.
Pembagian armada berdasarkan wilayah memungkinkan operasi udara menyesuaikan kebutuhan masing-masing daerah. Pesawat dapat menjalankan fungsi pemantauan maupun membantu pemadaman ketika kondisi kebakaran membutuhkan penanganan dari udara.
Operasi Water Bombing Berlangsung Intensif
BNPB bersama TNI terus menjalankan operasi water bombing untuk memadamkan titik-titik karhutla dari udara. Operasi tersebut berlangsung intensif pada Kamis (20/8) dan Jumat di sejumlah wilayah terdampak.
Dalam operasi water bombing, pesawat atau helikopter membawa air dalam jumlah besar untuk dijatuhkan langsung ke area yang terbakar. Metode tersebut membantu menjangkau lokasi kebakaran yang sulit ditangani secara langsung dari darat.
Operasi udara juga berjalan berdampingan dengan patroli dan pemantauan wilayah. Informasi mengenai kondisi titik api menjadi bagian penting dalam menentukan lokasi yang membutuhkan intervensi lebih lanjut.
Pengerahan tambahan lima pesawat TNI AU ke Kalimantan memperkuat kapasitas operasi yang sudah berjalan. Pemerintah juga tetap menyiagakan armada di Jakarta agar dapat merespons kebutuhan tambahan dengan cepat.
Pemerintah Perkuat Respons terhadap Dampak Karhutla
Penambahan armada udara menunjukkan langkah pemerintah untuk meningkatkan kecepatan respons terhadap titik-titik karhutla yang berpotensi meluas.
Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Pemerintah juga berupaya mengurangi dampak asap terhadap masyarakat dan menjaga kondisi lingkungan di wilayah terdampak.
Dengan 52 pesawat yang dikerahkan di enam provinsi, operasi udara menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam menghadapi potensi karhutla. Kesiapsiagaan armada juga memungkinkan BNPB dan TNI menyesuaikan operasi berdasarkan perkembangan situasi di lapangan.
Ke depan, koordinasi antara BNPB, TNI AU, dan instansi terkait menjadi penting untuk memastikan pengerahan armada berjalan efektif. Pemerintah perlu mempertahankan pemantauan dan kesiapsiagaan selama potensi karhutla masih berlangsung di wilayah rawan.
baca juga: Kemenhut: Penanganan karhutla di Kalsel perlu kajian pascapemadaman




Leave a Reply