Konflik Timur Tengah Dorong Krisis Pangan Global ke Rekor Baru

Konflik Timur Tengah Dorong Krisis Pangan Global ke Rekor Baru

marketingcollections – Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras pada Selasa (17/3/2026) bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong tingkat kelaparan global ke rekor tertinggi sepanjang masa. Wakil Direktur Eksekutif WFP Carl Skau menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss .

“Jika konflik Timur Tengah berlanjut hingga Juni, tambahan 45 juta orang dapat terdorong ke dalam kelaparan akut akibat kenaikan harga,” kata Skau . Analisis terbaru WFP memperkirakan angka tersebut akan menambah beban 318 juta jiwa yang saat ini sudah mengalami kerawanan pangan akut di seluruh dunia .

Menurut Skau, konflik tersebut telah menyebabkan efek domino yang signifikan terhadap operasi kemanusiaan global. Rantai pasokan WFP menghadapi gangguan paling parah sejak pandemi COVID-19 dan krisis Ukraina tahun 2022 . Ketika perang Ukraina memicu krisis biaya hidup, kelaparan global mencapai rekor dengan 349 juta orang terdampak. WFP memproyeksikan situasi serupa dapat terulang dalam beberapa bulan mendatang .

Seiring meningkatnya kekerasan di Timur Tengah yang kini memasuki pekan ketiga, berbagai operasi bantuan mengalami durasi pengiriman lebih lama dan biaya lebih tinggi . WFP, yang mengoperasikan ribuan truk setiap hari, menghadapi kenaikan biaya pengiriman sebesar 18 persen akibat melonjaknya harga minyak di atas 100 dolar AS per barel .

“Hampir terhentinya” pengiriman melalui Selat Hormuz mengancam pasokan pupuk global. Selat strategis ini menjadi jalur penting bagi seperempat pasokan pupuk dunia . Gangguan pasokan pupuk dapat menaikkan biaya input petani, menurunkan hasil panen, hingga menyebabkan gagal panen .

WFP menganalisis dampak konflik dengan memodelkan guncangan harga minyak 100 dolar AS yang meningkatkan biaya transportasi dan harga pangan global. Negara-negara di Afrika Sub-Sahara dan Asia menjadi paling rentan akibat ketergantungan pada impor pangan dan bahan bakar . Proyeksi menunjukkan peningkatan 21 persen penduduk rawan pangan di Afrika Barat dan Tengah, 17 persen di Afrika Timur dan Selatan, serta 24 persen di Asia .

Skau menyatakan keprihatinan atas dampak di negara-negara berkonflik. Sudan, yang mengimpor sekitar 80 persen gandumnya, akan mengalami lonjakan harga pangan pokok . Di Somalia yang dilanda kekeringan parah, harga komoditas esensial telah naik setidaknya 20 persen sejak konflik dimulai . Kedua negara ini memiliki tingkat kerawanan pangan tinggi dan pernah mengalami kelaparan dalam beberapa tahun terakhir.

Lembaga tersebut terpaksa mengurangi jatah makanan bagi masyarakat yang terancam kelaparan di Sudan. Di Afghanistan yang menjadi pusat krisis malanutrisi terburuk dunia, WFP kini hanya mampu membantu satu dari empat anak yang mengalami kekurangan gizi akut .

Skau menekankan bahwa krisis ini terjadi di tengah kekurangan dana parah yang memaksa WFP memprioritaskan program di semua benua. “Tanpa respons kemanusiaan yang didanai memadai, ini dapat menjadi bencana bagi jutaan orang yang sudah berada di ambang batas,” tegasnya .

Para pejabat WFP memperingatkan bahwa kenaikan biaya pangan dan bahan bakar global “dapat membuat jutaan keluarga tidak mampu membeli makanan pokok.” Negara-negara pengimpor diprediksi akan merasakan dampak paling parah . Dunia kini menanti apakah eskalasi konflik dapat diredakan sebelum bencana kemanusiaan yang lebih besar tak terelakkan.

“Baca Juga : Bea Cukai Jakarta Periksa Izin dan Kepabeanan 82 Kapal Pesiar”

Krisis Pupuk Global Mengintai: Selat Hormuz Terhenti, 25 Persen Pasokan Dunia Terancam

Lembaga Program Pangan Dunia (WFP) terpaksa mengambil langkah drastis mengurangi jatah makanan bagi masyarakat yang terancam kelaparan di Sudan. Di Afghanistan, yang menjadi pusat krisis malanutrisi terburuk dunia, WFP kini hanya mampu membantu satu dari empat anak yang mengalami kekurangan gizi akut . Kondisi ini menggambarkan betapa parahnya dampak konflik Timur Tengah terhadap operasi kemanusiaan global.

Wakil Direktur Eksekutif WFP Carl Skau menyatakan kekhawatiran mendalam atas terganggunya pasar pupuk global. “Hampir terhentinya” pengiriman melalui Selat Hormuz mengancam pasokan pupuk dunia. Selat strategis ini merupakan jalur penting bagi seperempat pasokan pupuk global . Gangguan di titik kritis ini menciptakan efek berantai yang mengkhawatirkan.

Skau menjelaskan bahwa gangguan pasokan pupuk akan menaikkan biaya input petani secara signifikan. Akibatnya, hasil panen berpotensi menurun drastis di berbagai negara. Dalam skenario terburuk, gagal panen massal dapat terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Krisis pangan global pun semakin tak terhindarkan.

Ia juga menekankan lonjakan biaya pangan dan bahan bakar global menciptakan ancaman nyata. “Hal ini dapat membuat jutaan keluarga tidak mampu membeli makanan pokok,” tegas Skau dalam konferensi pers di Jenewa . Kenaikan harga pangan terjadi di saat pendapatan masyarakat justru tergerus inflasi.

Negara-negara yang bergantung pada impor diprediksi akan merasakan dampak paling parah. Mereka tidak memiliki cadangan pangan domestik yang memadai untuk bertahan. Ketika harga internasional melonjak, kemampuan impor menyusut drastis. Rakyat di negara tersebut terpaksa mengurangi konsumsi atau beralih ke makanan kurang bergizi.

Skau memperingatkan bahwa krisis ini terjadi di tengah kekurangan dana parah yang membelit WFP. Lembaga kemanusiaan itu terpaksa memprioritaskan program di semua benua. Bantuan yang ada tidak sebanding dengan kebutuhan yang membengkak. Jutaan orang terpaksa tidak mendapatkan layanan yang seharusnya.

“Tanpa respons kemanusiaan yang didanai memadai, ini dapat menjadi bencana bagi jutaan orang yang sudah berada di ambang batas,” ujarnya . Pernyataan ini mencerminkan frustrasi atas minimnya dukungan internasional di tengah krisis. Padahal, kebutuhan mendesak terus meningkat setiap harinya.

Sebelumnya, WFP mengungkapkan bahwa konflik Timur Tengah yang memasuki pekan ketiga telah mengganggu rantai pasokan. Biaya pengiriman melonjak 18 persen akibat kenaikan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel. Jika konflik berlanjut hingga Juni, tambahan 45 juta orang dapat terdorong ke kelaparan akut .

Situasi di Sudan dan Afghanistan menjadi cermin buram dampak krisis global. Di Sudan, WFP terpaksa mengurangi jatah makanan di tengah konflik berkepanjangan. Di Afghanistan, angka malanutrisi anak mencapai level mengkhawatirkan. Kedua negara ini memiliki sejarah panjang kerawanan pangan yang kini memburuk drastis.

Dunia kini menanti apakah ada upaya serius meredakan ketegangan di Timur Tengah. Setiap hari keterlambatan berarti jutaan nyawa semakin terancam. Komunitas internasional harus bergerak cepat sebelum krisis kemanusiaan ini meluas tak terkendali.

“Baca Juga : Polda Jatim Ungkap Bahan Kimia di Ledakan Masjid Jember”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *