MarketingCollections.com -Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan partainya menolak wacana Pilkada dipilih DPRD.
Pernyataan itu disampaikan di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu, usai Rapat Kerja Nasional (Rakernas) partai.
Hasto menekankan sikap PDIP didasarkan pada aspirasi rakyat dan pengalaman demokrasi Indonesia.
“Sikap partai sangat jelas dan diambil secara demokratis. Aspirasi rakyat kami serap melalui seluruh jajaran partai yang hadir dalam Rakernas,” ujar Hasto.
Ia menegaskan bahwa setiap keputusan partai melalui mekanisme internal yang demokratis, mencerminkan suara kader dan masyarakat.
PDIP tetap berkomitmen mempertahankan pemilihan kepala daerah secara langsung sebagai bentuk partisipasi publik.
Hasto menjelaskan penolakan ini berangkat dari pengalaman historis Indonesia pada masa Orde Baru.
Kala itu, sistem kekuasaan terpusat menutup ruang partisipasi rakyat dan memicu krisis legitimasi kepemimpinan.
PDI Perjuangan menilai pengalihan Pilkada ke DPRD dapat melemahkan akuntabilitas dan keterlibatan warga.
Langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat demokrasi lokal dan memastikan aspirasi masyarakat tersalurkan secara langsung.
Partai juga mendorong pendidikan politik bagi warga agar pemilih memahami hak dan tanggung jawab mereka.
Baca juga:“Ini Alasan Mengapa Makan Pasta yang Sudah Disimpan Semalaman Lebih Baik”
Hasto Tegaskan Pentingnya Legitimasi Pilkada Langsung dan Tekan Biaya Politik
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan pentingnya kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat.
Pilkada langsung memberikan legitimasi kuat dan membuat kepala daerah tidak mudah dijatuhkan oleh DPRD.
Pernyataan ini disampaikan Hasto dalam konteks menolak wacana Pilkada dipilih DPRD.
“Reformasi mengamanatkan pentingnya legitimasi pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat. Kepala daerah memiliki legitimasi kuat dan stabil,” ujar Hasto.
Ia menekankan bahwa pemilihan langsung menjadi fondasi demokrasi lokal dan sarana menyalurkan aspirasi masyarakat.
Sistem ini mendorong transparansi, akuntabilitas, dan keterlibatan publik dalam menentukan kepemimpinan daerah.
Hasto juga mengakui pilkada langsung masih menghadapi sejumlah persoalan.
Praktik politik uang, persaingan tidak sehat, dan biaya politik tinggi menjadi tantangan utama penyelenggaraan pilkada.
Menurutnya, tantangan tersebut memerlukan regulasi tegas dan pengawasan dari partai politik maupun pemerintah.
PDI Perjuangan berupaya menekan biaya politik melalui semangat gotong royong dan aturan internal partai.
Partai mendorong kader mengutamakan etika politik, kerja sama tim, dan efisiensi sumber daya selama pilkada.
PDIP Tegaskan Strategi Kader dan Risiko Pilkada Dipilih DPRD
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan partainya tetap menolak wacana Pilkada dipilih DPRD.
Ia menekankan pentingnya pemilihan langsung untuk menjaga keterlibatan rakyat dan legitimasi kepala daerah.
Penolakan ini juga terkait strategi penempatan kader di wilayah-wilayah strategis dan sentra produksi pangan.
“Partai mempertimbangkan penempatan kader di daerah lumbung pangan, kawasan perbatasan, hingga wilayah strategis seperti Papua,” ujar Hasto.
Menurutnya, penempatan strategis ini bertujuan mendukung pembangunan, stabilitas politik, dan pelayanan publik yang optimal.
PDI Perjuangan menilai pemilihan langsung memudahkan partai menempatkan kader sesuai kebutuhan daerah dan aspirasi masyarakat.
Hasto menambahkan, mahalnya biaya politik kerap terkait lemahnya penegakan hukum di berbagai sektor.
Praktik politik uang dan biaya kampanye tinggi dapat mengurangi kualitas demokrasi dan merugikan rakyat.
Partai mendorong penguatan regulasi dan pengawasan untuk menekan biaya politik yang tidak sehat.
Baca juga:“Resep dan Cara Simpel Bikin Tang Yuan, Camilan Hangat Favorit Saat Imlek”




Leave a Reply