marketingcollections – Pemerintah Jepang secara resmi mulai melepas cadangan minyak nasionalnya pada Senin (16/3/2026) untuk meredam dampak krisis pasokan akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Langkah darurat ini diambil menyusul penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi 94 persen pasokan minyak negara tersebut .
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang menerbitkan ketetapan resmi yang memerintahkan perusahaan minyak domestik untuk mengurangi cadangan minyak dasar mereka. “Berdasarkan UU Pemeliharaan Cadangan Minyak tahun 1975, keputusan telah dibuat untuk mengurangi cadangan minyak dasar,” demikian bunyi ketetapan yang dirilis Senin (16/3) .
Instruksi ini berlaku hingga 15 April 2026 dan ditujukan kepada seluruh kilang, pemasar, maupun importir minyak di Jepang. Volume minyak yang akan dilepas ke pasar setara dengan kebutuhan pasokan domestik selama 15 hari .
Pelepasan Terbesar dalam Sejarah
Pemerintah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan pelepasan sekitar 80 juta barel minyak dari cadangan nasional, jumlah terbesar yang pernah dilakukan Jepang . Angka tersebut setara dengan kebutuhan minyak domestik untuk 45 hari dan 1,8 kali lipat volume yang dilepas pasca gempa dan tsunami 2011 yang menghancurkan wilayah timur laut Jepang .
Pelepasan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama melepas cadangan 15 hari dari sektor swasta yang dimulai Senin ini. Tahap kedua akan melepas cadangan satu bulan dari penyimpanan pemerintah mulai akhir Maret 2026 .
Pemerintah akan menurunkan kewajiban cadangan wajib bagi perusahaan penyulingan dan perdagangan minyak dari 70 hari menjadi 55 hari. Kebijakan ini memungkinkan mereka menggunakan stok yang ada untuk memenuhi kebutuhan domestik .
Ketergantungan Tinggi pada Timur Tengah
Jepang mengimpor lebih dari 90 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah, dengan rincian 94 persen harus melintasi Selat Hormuz . Penutupan selat strategis ini akibat perang yang meluas membuat pasokan terhenti dan harga minyak melonjak tajam sejak konflik dimulai 28 Februari 2026 .
Per 31 Desember 2025, Jepang memiliki cadangan minyak sekitar 470 juta barel, setara kebutuhan 254 hari. Rinciannya meliputi cadangan 146 hari dari penyimpanan pemerintah, 101 hari dari sektor swasta, dan sisanya disimpan bersama oleh negara-negara produsen minyak .
Respons Internasional dan Pelepasan Global
Langkah Jepang merupakan bagian dari upaya terkoordinasi Badan Energi Internasional (IEA) yang melepas lebih dari 400 juta barel cadangan minyak global . Amerika Serikat sendiri melepas 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategisnya untuk menekan lonjakan harga .
Ini adalah ketujuh kalinya cadangan minyak Jepang digunakan sejak sistem cadangan dimulai tahun 1970-an. Terakhir kali Jepang melepas cadangan adalah saat invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022 .
Dampak dan Keterbatasan
Yuriy Humber, CEO konsultan Yuri Group, menilai pelepasan cadangan dapat membantu menstabilkan pasokan dan harga dalam jangka pendek. “Namun terutama hanya untuk memberi waktu. Cadangan tersebut tidak dapat sepenuhnya mengimbangi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz,” katanya .
Sementara itu, Menteri METI Ryosei Akazawa mengatakan perusahaan Jepang juga mencari pasokan alternatif dari AS, Asia Tengah, Amerika Selatan, dan negara Teluk yang dapat melewati Selat Hormuz . Jepang saat ini mendapatkan sekitar 4 persen minyaknya dari AS setelah menghentikan pembelian dari Rusia pasca invasi Ukraina 2022 .
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran ini telah mendorong harga minyak mentah global melonjak lebih dari 40 persen, dengan Brent menembus US$103 per barel dan WTI mendekati US$99 per barel . Jika gangguan berlanjut, analis memperingatkan harga berpotensi mencapai US$130 hingga US$150 per barel .
“Baca Juga : Bahlil Ajak Menteri Energi Indo-Pasifik Perkuat Kolaborasi”
Jepang Gunakan 15 Hari Cadangan Komersial dan 30 Hari Stok Pemerintah, 94 Pasokan Terjebak Blokade Selat Hormuz
Pemerintah Jepang resmi mengaktifkan mekanisme darurat energi dengan melepas cadangan minyak dari dua sumber utama. Pelepasan dilakukan dari cadangan komersial selama 15 hari dan cadangan penyimpanan pemerintah selama 30 hari, sebagai respons terhadap krisis pasokan akibat konflik di Timur Tengah .
Keputusan ini tertuang dalam ketetapan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang yang dirilis Senin (16/3/2026). Instruksi tersebut berlaku hingga 15 April 2026 dan ditujukan kepada seluruh kilang, pemasar, maupun importir minyak di Jepang .
Cadangan Nasional Mencukupi 254 Hari
Saat keputusan pelepasan diambil, Jepang memiliki stok cadangan minyak yang cukup besar. Total cadangan mencapai 470 juta barel, setara dengan kebutuhan domestik selama 254 hari .
Rincian cadangan tersebut meliputi 146 hari dari penyimpanan pemerintah yang dikelola secara nasional. Selain itu, terdapat 101 hari dari fasilitas penyimpanan minyak milik swasta yang tersebar di berbagai wilayah Jepang. Sisanya disimpan bersama oleh negara-negara produsen minyak dalam skema kerja sama internasional .
Cadangan sebesar ini merupakan hasil akumulasi kebijakan energi Jepang pasca krisis minyak tahun 1970-an. Undang-Undang Pemeliharaan Cadangan Minyak tahun 1975 mewajibkan perusahaan untuk menyimpan stok tertentu sebagai jaring pengaman .
Ketergantungan Fatal pada Timur Tengah
Di balik cadangan besar itu, Jepang menghadapi kerentanan struktural yang serius. Sekitar 94 persen dari total pasokan minyak Jepang berasal dari Timur Tengah, dan hampir seluruhnya harus melintasi Selat Hormuz .
Selat strategis ini kini ditutup akibat eskalasi perang yang meluas. Penutupan jalur vital tersebut membuat pasokan minyak mentah dari negara-negara Teluk terhenti total, memicu lonjakan harga dan kekhawatiran kelangkaan .
Situasi ini memaksa Jepang mengandalkan cadangan yang ada sambil mencari sumber alternatif. Namun, mengganti 94 persen pasokan dalam waktu singkat adalah tantangan besar yang sulit diatasi .
Kronologi Konflik yang Memicu Krisis
Gangguan di Selat Hormuz dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 terhadap Iran. Serangan tersebut menargetkan sejumlah lokasi di Iran, termasuk ibu kota Teheran, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa .
Iran merespons dengan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai lokasi di Timur Tengah. Balasan ini memperluas cakupan konflik dan mengancam stabilitas kawasan .
Konflik yang melibatkan negara-negara besar ini telah mengganggu jalur pelayaran internasional. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi zona terlarang bagi kapal tanker .
Dampak Ekonomi Global
Langkah Jepang melepas cadangan minyak merupakan bagian dari respons terkoordinasi negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA). Total pelepasan global mencapai lebih dari 400 juta barel untuk menstabilkan pasar .
Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 40 persen sejak konflik dimulai. Brent Crude menembus US$103 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$99 per barel. Analis memperingatkan harga bisa mencapai US$130 hingga US$150 per barel jika gangguan berlanjut .
Bagi Jepang, kenaikan harga dan gangguan pasokan ini menjadi pukulan berat bagi ekonomi yang sedang berusaha pulih. Industri manufaktur dan transportasi akan terkena dampak langsung dari mahalnya energi .
Upaya Diplomatik dan Solusi Jangka Panjang
Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa menyatakan pemerintah sedang menjajaki pasokan alternatif. Sumber dari Amerika Serikat, Asia Tengah, Amerika Selatan, dan negara-negara Teluk yang dapat melewati Selat Hormuz menjadi target .
Jepang saat ini hanya mendapatkan sekitar 4 persen minyaknya dari AS. Angka ini bisa ditingkatkan melalui kerja sama energi bilateral. Namun, kapasitas produksi AS dan infrastruktur pengiriman menjadi kendala .
Diplomasi energi juga diarahkan untuk menekan pihak-pihak yang bertikai agar membuka kembali Selat Hormuz. Jalur ini terlalu penting bagi ekonomi global untuk dibiarkan tertutup dalam waktu lama .
Dengan cadangan yang cukup untuk 254 hari, Jepang memiliki waktu untuk mencari solusi. Namun, setiap hari konflik berlanjut, cadangan itu berkurang dan tekanan terhadap perekonomian meningkat.
“Baca Juga : ADSP Bakauheni Terapkan Single Tarif Penyeberangan Arus Balik”




Leave a Reply