Pelatih Berguguran di Piala Dunia 2026, Tekanan Besar Berujung Pengunduran Diri
Piala Dunia 2026 tidak hanya mengakhiri mimpi para pemain untuk meraih trofi paling bergengsi di sepak bola dunia. Turnamen ini juga menjadi ujian berat bagi para pelatih yang harus mempertanggungjawabkan setiap hasil di lapangan. Dalam waktu singkat, sejumlah juru taktik memilih mundur atau kehilangan pekerjaannya setelah tim yang mereka tangani gagal memenuhi target.
Fenomena tersebut kembali menunjukkan bahwa posisi pelatih di Piala Dunia sangat rentan. Proyek yang dibangun selama bertahun-tahun dapat berakhir hanya dalam hitungan pertandingan ketika hasil tidak sesuai harapan federasi maupun publik.
Sejumlah Pelatih Tinggalkan Jabatan Setelah Tim Gagal Berprestasi
Belanda, Ekuador, Uruguay, dan Korea Selatan menjadi negara yang langsung mengalami pergantian pelatih setelah langkah mereka terhenti di Piala Dunia 2026. Ronald Koeman, Sebastian Beccacece, Marcelo Bielsa, dan Hong Myung-bo memutuskan mengakhiri masa tugas usai kegagalan tim masing-masing.
Mereka mengikuti langkah Steve Clarke dari Skotlandia, Miroslav Koubek dari Republik Ceko, dan Sabri Lamouchi yang lebih dahulu meninggalkan kursi kepelatihan selama turnamen berlangsung.
Setiap keputusan lahir dari situasi berbeda. Ada pelatih yang memang sudah berada di bawah tekanan sebelum turnamen dimulai. Ada pula yang sebelumnya mendapat apresiasi karena sukses membawa negaranya lolos ke putaran final, tetapi pencapaian tersebut tidak cukup menyelamatkan posisi mereka setelah hasil mengecewakan di Piala Dunia.
Marcelo Bielsa menjadi salah satu nama yang paling disorot. Uruguay, yang pernah dua kali menjuarai Piala Dunia, gagal mencatatkan satu kemenangan pun dan tersingkir pada fase grup.
Bielsa mengakui hasil tersebut tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan sejak awal proyek kepelatihannya.
“Bagi saya, perpisahan ini terasa sangat menyakitkan karena besarnya harapan yang saya miliki saat memulai proyek ini, tetapi saya tidak dapat menjustifikasi posisi akhir yang kami raih,” ujar pelatih asal Argentina tersebut.
Sebastian Beccacece juga memilih mengundurkan diri setelah Ekuador tersingkir di babak 32 besar usai kalah dari Meksiko, salah satu tuan rumah turnamen.
Menurut Beccacece, kontraknya memang berakhir setelah Piala Dunia selesai. Namun, kegagalan memenuhi target menjadi alasan utama dirinya tidak melanjutkan kerja sama dengan federasi.
“Kontrak saya berakhir tepat setelah Piala Dunia selesai, dan mengingat kami gagal memenuhi target yang kami janjikan, langkah terbaik adalah melepaskan jabatan,” katanya.
Padahal, pelatih berusia 45 tahun itu membawa Ekuador tampil impresif sepanjang babak kualifikasi zona Amerika Selatan. Timnya finis di posisi kedua klasemen akhir dan membukukan 19 pertandingan tanpa kekalahan sebelum tampil di Piala Dunia 2026.
baca juga: “Sukses Korea Selatan dan Chile Tumbuhkan Asa Amerika Serikat di Piala Dunia 2026“
Hong Myung-bo juga mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan Korea Selatan. Tim Asia tersebut gagal lolos dari fase grup sehingga pelatih legendaris itu memutuskan mengakhiri masa jabatannya.
“Saya gagal memberikan hasil yang diharapkan publik. Tanggung jawab sepenuhnya ada pada saya,” ujar Hong.
Sementara itu, Ronald Koeman memilih mundur setelah Belanda disingkirkan Maroko melalui drama adu penalti. Kekalahan tersebut menjadi eliminasi tercepat yang pernah dialami Belanda dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
Steve Clarke pun mengambil keputusan serupa meski baru menandatangani kontrak empat tahun hanya beberapa pekan sebelum turnamen dimulai. Selama tujuh tahun memimpin Skotlandia, Clarke berhasil mengakhiri penantian panjang negaranya untuk kembali tampil di Piala Dunia sejak 1998 dan membawa tim lolos ke dua edisi Piala Eropa.
Di sisi lain, Miroslav Koubek meninggalkan jabatannya setelah Republik Ceko menempati posisi juru kunci grup. Ia menilai hasil tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelatih.
Pemecatan Pelatih Sudah Lama Menjadi Bagian dari Sejarah Piala Dunia
Sabri Lamouchi menjadi pelatih pertama yang kehilangan pekerjaannya pada Piala Dunia 2026. Federasi Tunisia memecat pelatih asal Prancis tersebut setelah timnya kalah telak 1-5 dari Swedia pada pertandingan pembuka.
Kasus itu menambah panjang daftar pelatih yang harus mengakhiri tugas di tengah berlangsungnya Piala Dunia. Dalam sejarah turnamen, Henryk Kasperczak pernah mengalami situasi serupa saat menangani Tunisia. Korea Selatan juga memecat Cha Bum-kun pada Piala Dunia 1998 setelah hasil buruk timnya.
Contoh lain terjadi menjelang Piala Dunia 2018 ketika Spanyol secara mengejutkan memberhentikan Julen Lopetegui hanya dua hari sebelum pertandingan pertama dimulai. Keputusan tersebut menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah turnamen.
Fenomena pergantian pelatih menunjukkan tingginya ekspektasi yang menyertai ajang empat tahunan tersebut. Federasi sepak bola umumnya menjadikan Piala Dunia sebagai tolok ukur utama keberhasilan sebuah program pembinaan.
Akibatnya, hasil buruk dalam beberapa pertandingan sering kali menghapus pencapaian yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Kesuksesan di fase kualifikasi maupun turnamen sebelumnya tidak selalu menjadi jaminan bagi seorang pelatih untuk mempertahankan jabatannya.
Piala Dunia 2026 kembali menegaskan bahwa menjadi pelatih tim nasional bukan hanya soal merancang strategi, tetapi juga kemampuan menghadapi tekanan luar biasa. Selama ekspektasi publik tetap tinggi, posisi juru taktik akan selalu menjadi yang pertama dipertanyakan ketika hasil di lapangan tidak sesuai harapan.
baca juga: “Piala Dunia 2026: Portugal dan Kroasia adu lini tengah“



Leave a Reply