MarketingCollections.com -Penasihat senior militer untuk mendiang pemimpin tertinggi Iran, Yahya Rahim Safavi, menyatakan konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel diperkirakan berakhir sebelum perayaan Tahun Baru Nowruz. Pernyataan ini disampaikan Kamis, menandai prediksi cepatnya penyelesaian ketegangan di kawasan.
Safavi mengungkapkan perhitungannya berdasarkan dinamika militer saat ini di wilayah Timur Tengah. Ia menilai operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran tidak akan berlanjut terlalu lama.
Pada Rabu (11/3), Presiden Donald Trump menyatakan bahwa “tidak akan ada lagi” target militer yang tersisa di Iran. Trump menekankan bahwa pasukan Amerika tidak berniat menghentikan operasi secara instan, meski sebagian besar sasaran telah tercapai.
“Anggapan saya, perang ini akan berakhir sebelum Nowruz, yang dirayakan pada 21 Maret,” kata Safavi seperti dikutip Kantor Berita ISNA. Pernyataan ini memberi indikasi bahwa pihak Iran memproyeksikan resolusi cepat konflik sebelum perayaan penting nasional.
Baca juga:“Mundurnya Iran dari Piala Dunia Mencerminkan Ketidakpercayaan”
Pemimpin Baru Iran, Ketegangan dengan AS dan Israel Berlanjut
Mojtaba Khamenei resmi terpilih sebagai pemimpin baru Iran setelah kematian mantan pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Otoritas Iran menegaskan tidak ada perubahan lain dalam struktur kepemimpinan militer negara tersebut.
Pergantian kepemimpinan terjadi di tengah ketegangan militer yang meningkat dengan Amerika Serikat dan Israel. Pada 28 Februari, kedua negara melancarkan serangan terhadap target di Iran, menimbulkan kerusakan fisik dan korban sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika di Timur Tengah. Aksi ini menandai eskalasi langsung dalam konflik yang telah memicu kekhawatiran internasional.
Pemilihan Mojtaba Khamenei dipandang penting oleh analis geopolitik. Ia kini memegang peran kunci dalam menentukan arah kebijakan militer dan diplomasi Iran di tengah konflik aktif.
Meski pergantian pemimpin, Iran menegaskan kontinuitas komando militer. Tidak ada perubahan struktural lain yang diumumkan, memastikan operasi pertahanan dan balasan tetap berjalan sesuai strategi nasional.
Serangan ke Iran Untuk Lawan Ancaman Nuklir dan Perubahan Kekuasaan
Amerika Serikat dan Israel menyatakan serangan militer terhadap Iran awalnya ditujukan untuk menghadapi ancaman program nuklir.
Namun, pejabat kedua negara kemudian memperjelas bahwa tujuan lain dari operasi itu adalah untuk mendorong perubahan kekuasaan di Iran. Pernyataan ini menimbulkan kritik dari sejumlah pihak internasional.
Serangan terjadi pada 28 Februari terhadap beberapa target strategis di Iran, termasuk fasilitas militer dan pusat penelitian yang diduga terkait program nuklir. Insiden ini menimbulkan kerusakan fisik dan korban sipil.
Iran menanggapi serangan dengan membalas ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika di Timur Tengah. Aksi balasan ini menandai eskalasi langsung yang memperumit situasi keamanan regional.
Para analis internasional menilai bahwa pengumuman tujuan ganda AS dan Israel dapat memperburuk persepsi diplomatik. Selain isu nuklir, motif perubahan kepemimpinan meningkatkan ketegangan politik dan militer.
Komunitas global menyerukan agar kedua belah pihak menahan diri dan mencari jalur diplomasi. Risiko konflik lebih luas tetap tinggi jika tindakan militer terus berlanjut.
Baca juga:“Beruang Madu Kembali Dilepas ke Gunung Tarak Usai Sembuh dari Jerat”



Leave a Reply