marketingcollections – Negara-negara Eropa secara tegas menolak seruan Amerika Serikat (AS) untuk mengerahkan pasukan angkatan laut ke Selat Hormuz. Mereka menekankan tidak berniat terlibat secara militer dalam konflik yang meningkat dengan Iran. Pernyataan ini disampaikan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, Senin (16/3/2026), usai pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels.
Kallas menyoroti bahwa Eropa “tidak tertarik pada perang tanpa akhir.” Ia menegaskan Uni Eropa berfokus pada penguatan keamanan maritim tetapi tidak ada keinginan di antara negara-negara anggota untuk memperluas misi saat ini. “Tidak ada yang ingin secara aktif terlibat dalam perang ini,” katanya dalam konferensi pers.
Prioritas Eropa: Diplomasi, Bukan Eskalasi
Menurut Kallas, prioritas blok tersebut tetap menjaga kebebasan navigasi dan mengintensifkan upaya diplomatik. Uni Eropa tidak berencana memperluas misi seperti Operasi Aspides di Laut Merah ke Selat Hormuz. Operasi Aspides saat ini bertugas mengawal kapal dagang dan operasi anti-pembajakan di kawasan Laut Merah.
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menyuarakan hal serupa. Ia menggarisbawahi bahwa misi angkatan laut Uni Eropa tidak dirancang untuk beroperasi di Selat Hormuz. “Misi kami memiliki mandat terbatas untuk keamanan maritim, bukan untuk intervensi militer di zona konflik aktif,” ujar Tajani.
Konteks Ketegangan di Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap harinya. Ketegangan meningkat setelah AS-Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian menutup Selat Hormuz untuk kapal AS dan Israel sejak 1 Maret 2026. Tindakan ini mendorong harga minyak menembus 100 dolar AS per barel dan mengancam stabilitas pasokan energi global. AS meminta bantuan sekutu Eropa untuk mengamankan jalur tersebut, namun permintaan ini ditolak mentah-mentah.
Dampak Ekonomi dan Keamanan Global
Penutupan Selat Hormuz berdampak luas pada perekonomian global. Negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang, Korea Selatan, dan sebagian besar Eropa merasakan tekanan kenaikan harga energi. Para pemimpin G7 dalam pertemuan virtual mendesak agar konflik segera diakhiri demi mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut.
Penolakan Eropa mengirim pasukan menunjukkan perbedaan pendekatan dengan AS dalam menangani krisis. Eropa memilih jalur diplomasi dan menghindari keterlibatan militer langsung yang berisiko memperluas konflik. Sikap ini juga mencerminkan kelelahan publik Eropa terhadap perang berkepanjangan di berbagai kawasan.
Upaya Diplomatik Alternatif
Uni Eropa kini fokus pada penguatan dialog dengan semua pihak yang bertikai. Mereka mendorong negosiasi damai dan mencari solusi diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz. Beberapa negara Eropa juga menjajaki komunikasi tidak langsung dengan Iran melalui saluran diplomatik di Oman dan Qatar.
Kallas menegaskan bahwa keamanan maritim tetap penting, namun bukan berarti harus dengan intervensi militer. “Kami akan terus menjaga kebebasan navigasi sesuai hukum internasional, tanpa terperangkap dalam eskalasi konflik,” pungkasnya.
Penolakan Eropa ini menjadi sinyal jelas bahwa sekutu tradisional AS tidak akan serta-merta mengikuti setiap langkah militer Washington, terutama di kawasan yang sudah sangat rapuh akibat konflik berkepanjangan.
“Baca Juga : Polda Jatim Ungkap Bahan Kimia di Ledakan Masjid Jember”
Polandia dan Belgia Tolak Kirim Armada ke Teluk, Kritik Trump Soal NATO
Polandia dan Belgia menegaskan kembali fokus mereka pada diplomasi dan stabilitas regional, menolak seruan Washington untuk menyumbangkan aset angkatan laut ke Selat Hormuz. Kedua negara Eropa ini secara tegas memisahkan diri dari rencana intervensi militer AS di tengah konflik berkepanjangan dengan Iran.
Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski melontarkan kritik tajam terhadap Presiden AS Donald Trump. Ia menyoroti pernyataan Trump yang menggambarkan NATO sebagai entitas terpisah dari AS, sementara di saat yang sama mendesak partisipasi Eropa dalam operasi militer di Teluk. Sikorski menilai sikap Washington inkonsisten dan tidak menghormati semangat aliansi.
Perdana Menteri Belgia Bart De Wever menegaskan posisi pemerintahannya dengan jelas. “Belgia tidak akan bergabung dalam serangan apa pun bersama AS dan Israel,” ujarnya di hadapan parlemen. Pernyataan tegas ini mengirim sinyal kuat bahwa sekutu Eropa tidak akan terseret dalam petualangan militer AS di Timur Tengah.
Klaim Trump dan Realitas di Lapangan
Sebelumnya pada Senin (16/3/2026), Trump mengklaim “banyak negara” sedang bersiap membantu AS membuka kembali Selat Hormuz. Namun ia enggan menyebutkan nama negara-negara tersebut dengan alasan khawatir mereka dapat menjadi sasaran Iran. Klaim ini sulit diverifikasi mengingat penolakan terbuka dari sejumlah negara Eropa.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas sebelumnya menegaskan tidak ada keinginan di antara negara anggota untuk memperluas misi militer ke Selat Hormuz. “Eropa tidak tertarik pada perang tanpa akhir,” tegasnya usai pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Selat Hormuz telah menjadi pusat perhatian pasar energi global sejak Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupannya. Tindakan ini merupakan respons atas serangan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak melewati selat tersebut setiap hari. Jalur ini menghubungkan produsen minyak utama Teluk Persia dengan pasar global. Gangguan yang terjadi telah mendorong harga minyak melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara.
Konsekuensi Ekonomi Global
Negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang, Korea Selatan, dan sebagian besar Eropa merasakan dampak langsung dari kenaikan harga energi. Industri manufaktur dan transportasi tertekan biaya operasional yang membengkak. Masyarakat juga menghadapi kenaikan harga bahan bakar dan barang kebutuhan pokok.
Para pemimpin G7 dalam pertemuan virtual mendesak agar konflik segera diakhiri demi mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut. Namun upaya diplomatik masih menemui jalan buntu karena kedua belah pihak bersikukuh pada posisi masing-masing.
Pilihan Diplomasi di Tengah Krisis
Sikap Polandia dan Belgia mencerminkan tren yang lebih luas di Eropa: keengganan untuk terlibat dalam konflik militer baru. Pengalaman perang di Afghanistan, Irak, dan ketegangan dengan Rusia membuat negara-negara Eropa lebih memilih pendekatan hati-hati.
Uni Eropa kini fokus pada penguatan dialog dengan semua pihak yang bertikai. Mereka mendorong negosiasi damai dan mencari solusi diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa eskalasi militer. Beberapa negara Eropa juga menjajaki komunikasi tidak langsung dengan Iran melalui saluran diplomatik di Oman dan Qatar.
Penolakan terbuka dari Polandia dan Belgia ini menjadi pukulan telak bagi upaya AS membangun koalisi laut di Teluk. Tanpa dukungan sekutu tradisionalnya, Washington harus mempertimbangkan ulang strategi militer di kawasan yang sudah sangat rapuh akibat konflik berkepanjangan.
“Baca Juga : Legislator Minta KPU Jadi Lembaga IV Negara Dikaji Ulang”




Leave a Reply