marketingcollections.com – Pemerintah Iran mengecam keras pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dinilai provokatif dan tidak berdasar. Pernyataan itu disampaikan setelah pidato Trump di parlemen Israel, Knesset, pada Senin, 13 Oktober 2025, menjelang KTT perdamaian internasional di Sharm el-Sheikh, Mesir. Dalam pidatonya, Trump menuding Iran ingin berdamai dengan AS meski publik Iran menolak klaim tersebut.
Kementerian Luar Negeri Iran melalui pernyataan resmi yang disiarkan kantor berita IRNA dan dikutip Anadolu Agency menegaskan bahwa Amerika Serikat merupakan sponsor terbesar terorisme di dunia. Pemerintah Teheran menyebut Washington tidak memiliki otoritas moral untuk menuduh negara lain, terutama karena perannya dalam mendukung rezim Zionis yang disebut sebagai “teroris dan genosidal.”
Iran Kritik Kebijakan AS dan Israel di Timur Tengah
Iran juga menilai tuduhan AS terhadap program nuklirnya hanyalah upaya mengalihkan perhatian dari pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh Israel dengan dukungan penuh Washington. Teheran menyebut tuduhan mengenai “program nuklir berbahaya” tidak dapat dijadikan pembenaran atas kejahatan bersama AS dan Israel terhadap kedaulatan Iran.
Salah satu puncak ketegangan terjadi pada 13 Juni 2025, saat Israel melancarkan serangan udara ke Teheran yang menargetkan fasilitas militer dan ilmiah. Serangan itu menewaskan sejumlah perwira tinggi dan ilmuwan nuklir Iran. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel, sementara AS membalas dengan menyerang tiga lokasi nuklir Iran. Konflik berlangsung selama 12 hari sebelum gencatan senjata diberlakukan pada 24 Juni.
Baca Juga : “Hasil Timnas Jepang vs Brasil di FIFA Matchday Oktober 2025: Samurai Biru Menang Dramatis 3-2!“
Tuntutan Iran kepada AS dan Dukungan untuk Palestina
Kementerian Luar Negeri Iran juga menuntut pertanggungjawaban AS atas dukungannya terhadap Israel yang dinilai menghambat proses hukum internasional. Iran menuduh Washington memblokir langkah Dewan Keamanan PBB dalam menindak kejahatan perang Israel di Gaza.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 67.800 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Kondisi ini membuat Gaza hampir tidak layak huni. Tahap pertama gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Jumat lalu, namun situasi kemanusiaan tetap genting.
Pandangan ke Depan: Diplomasi dan Kestabilan Regional
Iran menegaskan akan terus menempuh jalur diplomasi untuk menentang dominasi AS di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Teheran juga menyerukan komunitas internasional agar tidak lagi membiarkan Israel bertindak tanpa konsekuensi hukum.
Dengan meningkatnya ketegangan antara Iran, AS, dan Israel, para pengamat menilai konflik politik dan militer di kawasan ini akan terus memengaruhi stabilitas global. Teheran menegaskan bahwa selama AS terus mendukung kebijakan agresif Israel, perdamaian sejati di Timur Tengah sulit terwujud.
Baca Juga : “Adu Ranking FIFA Timnas Indonesia dengan Mantan Tim Asuhan Patrick Kluivert Curacao, bak Bumi dan Langit?“




Leave a Reply