MarketingCollections.com -Iran menolak laporan militer Amerika Serikat yang menyebut kemampuan peluncuran rudalnya menurun. Pemerintah Iran menegaskan kapasitas produksi dan persenjataan mereka tetap kuat.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan bantahan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta. Ia menegaskan Iran memiliki stok rudal dan amunisi dalam jumlah besar.
Boroujerdi juga menyebut jaringan produksi persenjataan konvensional Iran masih aktif. Aktivitas produksi ini berlangsung secara berkelanjutan di berbagai fasilitas militer dalam negeri.
“Kami tidak hanya memiliki banyak rudal dan amunisi. Pada saat yang sama jaringan produksi persenjataan konvensional kami juga aktif,” kata Boroujerdi, Kamis.
Pernyataan itu merespons laporan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM. Lembaga tersebut memantau aktivitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
CENTCOM sebelumnya menyatakan peluncuran rudal Iran menurun tajam dalam beberapa hari terakhir. Menurut laporan itu, peluncuran rudal Iran turun hingga 86 persen.
Selain itu, jumlah peluncuran drone Iran juga dilaporkan menurun. CENTCOM menyebut penurunan mencapai sekitar 73 persen dalam periode empat hari terakhir.
Baca juga:“Satgas PRR hidupkan kembali sistem kesehatan di daerah bencana”
Klaim Barat soal Penurunan Kapasitas Rudal Setelah Serangan Israel dan AS
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menolak laporan pejabat Barat yang menyebut peluncuran rudal Iran menurun akibat serangan. Ia menegaskan data kekuatan rudal negara lain sulit dipastikan.
Pejabat Barat sebelumnya menyatakan penurunan peluncuran rudal balistik Iran terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap lokasi peluncuran serta fasilitas produksi rudal. Laporan itu menyebut operasi militer asing mengurangi kapasitas Iran secara signifikan.
Menanggapi klaim tersebut, Boroujerdi menekankan bahwa hanya medan perang yang dapat menentukan pihak mana yang akan kehabisan amunisi. Ia meragukan data publik mengenai jumlah dan kekuatan rudal negara lain.
“Tentu tidak ada yang mengetahui secara persis seberapa kuat rudal dan berapa jumlahnya dari setiap negara. Hanya medan perang yang akan menentukan siapa habis amunisi. Amerika hanya ingin menyampaikan cita-citanya saja,” ujar Boroujerdi.
Ia menambahkan bahwa Iran memiliki stok rudal dan amunisi yang cukup besar. Produksi persenjataan konvensional di Iran juga terus berlangsung secara aktif, memastikan kesiapan pertahanan nasional.
Serangan terbaru oleh Israel terjadi pada Sabtu (28/2), merupakan serangan kedua terhadap Iran setelah serangan pertama pada Juni 2025. Operasi ini menargetkan fasilitas militer dan lokasi produksi rudal.
Program rudal menjadi pilar utama strategi pertahanan Iran. Negara ini telah mengembangkan berbagai rudal balistik jarak pendek dan menengah, yang menjadi alat pencegah di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, industri pertahanan domestik Iran memungkinkan produksi rudal tetap berjalan meski menghadapi sanksi internasional. Hal ini menunjukkan kemampuan Iran untuk menjaga kemandirian militer.
Trump Umumkan Operasi Militer AS di Iran, Iran Balas dengan Serangan Rudal
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan peluncuran operasi militer besar di Iran. Langkah ini dilakukan untuk melindungi warga Amerika dan meniadakan ancaman nuklir yang disebutnya berasal dari Iran.
Trump menegaskan pasukan AS menargetkan fasilitas yang diduga terkait pengembangan senjata nuklir. Ia menyebut operasi ini sebagai upaya pencegahan terhadap potensi ancaman regional.
Menanggapi serangan AS, Iran meluncurkan serangan rudal balasan. Target serangan mencakup wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika di Timur Tengah. Serangan ini menandai eskalasi ketegangan di kawasan tersebut.
Peristiwa ini terjadi di tengah perundingan nuklir yang berlangsung di Jenewa. Negosiasi tersebut dimediasi Oman, dengan tujuan mencapai kesepakatan baru antara AS dan Iran.
Para analis menilai eskalasi militer dapat memengaruhi proses diplomasi. Serangan rudal Iran diperkirakan meningkatkan tekanan pada kedua pihak untuk menahan aksi militer lebih lanjut.
Trump menekankan operasi militer ini bersifat defensif dan bertujuan melindungi kepentingan nasional Amerika. Ia juga menyebut keberhasilan operasi bergantung pada intelijen dan kesiapan pasukan di lapangan.
Sementara itu, Iran menegaskan haknya untuk membalas serangan. Peluncuran rudal balasan menunjukkan kesiapan militer Iran menghadapi tekanan eksternal.
Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah mengawasi perkembangan ini dengan cermat. Peningkatan ketegangan bisa memengaruhi keamanan regional, perdagangan, dan stabilitas politik.
Baca juga:“Dorongan dan tekanan dunia untuk deeskalasi konflik Israel-AS-Iran”




Leave a Reply