MarketingCollections.com -Amerika Serikat belum memiliki sistem pertahanan yang memadai untuk menghadapi serangan drone Shahed Iran, menurut laporan The Atlantic. Pernyataan ini dikutip dari pejabat kongres yang menyoroti kesenjangan kemampuan militer AS.
Seorang sumber menyatakan, “Militer AS tidak memiliki pertahanan yang kuat untuk melawan (drone) Shahed,” menggarisbawahi risiko keamanan di kawasan Timur Tengah. Laporan ini diterbitkan pada Kamis dan menyoroti perhatian tinggi terhadap ancaman drone.
Pejabat militer, termasuk Menteri Perang Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, mengakui adanya kesenjangan kemampuan menghadapi drone Shahed.
Menurut laporan, fokus investasi militer AS selama ini lebih besar pada sistem pertahanan berlapis untuk menghadapi ancaman jarak jauh, misalnya dari China. Sebaliknya, sistem untuk ancaman jarak dekat seperti Iran belum seimbang.
Drone Shahed Iran dikenal efektif dan memiliki kemampuan serangan presisi. Kesenjangan pertahanan AS dinilai dapat memicu kerentanan terhadap serangan pesawat tak berawak di kawasan strategis.
Baca juga:”Hari Ini Sebagian Kota Besar Diprediksi Hujan Ringan”
Hegseth Akui Drone Shahed Iran Jadi Tantangan Besar bagi Pertahanan AS
Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengakui bahwa drone Shahed-136 Iran menghadirkan tantangan signifikan bagi pertahanan udara AS. Pernyataan ini disampaikan dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen.
Dalam pengarahan tersebut, Hegseth menyebutkan bahwa ancaman dari drone satu arah Shahed-136 lebih kompleks daripada perkiraan sebelumnya. Hal ini menunjukkan kesenjangan kemampuan AS dalam menghadapi pesawat tak berawak berteknologi tinggi.
Drone Shahed-136 memiliki karakteristik serangan presisi dan sulit dideteksi oleh sistem pertahanan konvensional. Kemampuan ini menimbulkan risiko bagi pasukan dan aset strategis AS di wilayah Timur Tengah.
Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, juga menekankan pentingnya meninjau ulang strategi pertahanan udara. Keduanya sepakat bahwa investasi sebelumnya lebih fokus menghadapi ancaman jarak jauh, bukan regional.
Balasan Serangan Terjadi ke Israel dan Pangkalan AS
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini menimbulkan kerusakan signifikan dan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Serangan gabungan AS-Israel menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur penting di Iran. Tujuannya adalah menekan kemampuan operasional Iran dan menanggapi ancaman regional yang diperkirakan timbul dari program militer Tehran.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan ke pangkalan militer AS di beberapa negara di Timur Tengah. Balasan ini menggunakan sistem rudal jarak menengah dan drone bersenjata.
Para analis menilai serangan ini meningkatkan ketegangan regional dan risiko eskalasi lebih luas di Timur Tengah. Potensi konflik berlarut dapat berdampak pada stabilitas politik dan ekonomi kawasan.
Pihak militer AS menyatakan terus memantau situasi dan memperkuat pertahanan pangkalan mereka di wilayah strategis. Upaya koordinasi dengan sekutu regional juga ditingkatkan untuk menghadapi ancaman lebih lanjut.
Sementara itu, Israel menegaskan bahwa serangan balasan Iran menjadi tantangan keamanan serius. Langkah-langkah pertahanan udara dan kesiapan militer ditingkatkan untuk melindungi wilayah dan warga sipil.
Para pengamat internasional menekankan perlunya diplomasi intensif untuk meredam ketegangan. Negosiasi dan mediasi internasional dianggap penting agar konflik tidak meluas ke negara lain di kawasan.
Baca juga:“AS dan Venezuela Sepakat Pulihkan Hubungan Diplomatik”




Leave a Reply