- marketingcollections – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memuncak pada 28 Februari 2026. Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke berbagai target strategis di Iran. Operasi tersebut mencakup ratusan serangan udara dalam waktu singkat yang menargetkan infrastruktur militer Iran dan kepemimpinan politiknya .
Lembaga riset Realities of Algorithmic Warfare di Utrecht University melaporkan fakta mengejutkan. Jumlah serangan terhadap Iran dalam empat hari pertama operasi militer setara dengan serangan selama enam bulan kampanye melawan ISIS di Irak dan Suriah . Serangan ini menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, serta lebih dari 150 siswi sekolah .
Awalnya, AS mengklaim serangan preemptif diperlukan untuk menghadapi ancaman program nuklir Iran. Namun kemudian mereka secara jelas menunjukkan keinginan melihat perubahan kekuasaan di Iran . Operasi militer ini mencederai proses negosiasi tidak langsung mengenai nuklir yang sedang berlangsung di Jenewa, Swiss, dengan Oman sebagai mediator .
Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel. Mereka juga menyerang berbagai fasilitas milik AS dan sekutunya di kawasan Teluk Persia. Fasilitas militer AS, fasilitas minyak, dan infrastruktur strategis menjadi target utama . Konflik dengan cepat berkembang menjadi krisis regional yang melibatkan Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman .
Kelompok proksi Iran di kawasan seperti Hizbullah di Lebanon turut meluncurkan roket ke Israel . Eskalasi militer kemudian melebar menjadi ancaman terhadap jalur energi global akibat krisis di Selat Hormuz. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur paling strategis ini .
Keputusan Iran menutup Selat Hormuz memicu guncangan hebat pada stabilitas ekonomi global. Jalur perairan sempit ini mengalirkan 20 juta barel minyak per hari dan 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) dunia . Iran tidak melihat ruang untuk diplomasi dan meningkatkan tekanan ekonomi global agar komunitas internasional menekan Washington menghentikan konflik .
Harga minyak dunia melonjak hingga 9 persen, level tertinggi dalam hampir empat tahun. Pada Kamis (12/3), harga minyak jenis Brent ditutup melonjak menjadi 100,46 dolar AS per barel, setelah menyentuh level tertinggi sesi pada 101,60 dolar AS per barel . Analis ING menyatakan tidak ada tanda-tanda de-eskalasi di Teluk dan akhir gangguan aliran minyak belum terlihat .
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut perang ini menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Aliran minyak melalui Selat Hormuz melambat menjadi sangat sedikit dari sebelumnya sekitar 20 juta barel per hari. Negara penghasil utama di kawasan Teluk harus memangkas total produksi minyak setidaknya 10 juta barel per hari .
“Baca Juga : Pemkab Bogor Pastikan 9.867 PPPK Paruh Waktu Terima THR”
Respons Global Terhadap Serangan AS-Israel ke Iran: Dukungan Bersyarat hingga Kecaman Keras
- Kanada menjadi salah satu pendukung operasi militer ini, meski dengan nada menyesal. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan pemerintahnya mendukung serangan terhadap Iran “dengan rasa sesal”. Ia mencatut program nuklir dan dugaan suplai senjata ke Timur Tengah sebagai alasan dukungan Kanada. Padahal, Carney mengakui bahwa AS dan Israel memutuskan menyerang tanpa berkonsultasi dengan para sekutu .
Australia secara implisit menyatakan dukungan terhadap operasi AS dan Israel. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan akan memasok Uni Emirat Arab dengan rudal udara-ke-udara jarak menengah. Namun ia menegaskan Australia tidak akan mengirim pasukan ke Iran. Langkah ini memperkuat pertahanan sekutu AS di kawasan tanpa keterlibatan langsung .
Ukraina mengambil pendekatan berbeda dengan memasok bantuan teknis. Negara itu mengirim tim profesional militernya ke Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Mereka membantu negara-negara yang menjadi korban tidak langsung perang AS-Iran. Sebagai imbalan, AS dan sekutunya akan menyediakan sistem pertahanan udara untuk Ukraina. Ini menjadi kesepakatan strategis di tengah konflik berkepanjangan dengan Rusia .
Di kubu penentang, Rusia mengeluarkan kecaman keras terhadap serangan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menegaskan hak Iran untuk membela diri. Ia menyerukan Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan agresi. Zakharova menilai serangan yang menargetkan sipil dan infrastruktur Iran tidak dapat diterima. Rusia mendesak AS dan Israel kembali ke meja perundingan .
Tiongkok juga menyuarakan kecaman melalui Menteri Luar Negeri Wang Yi. Ia menegaskan agresi militer harus dihentikan segera. Tiongkok menuntut gencatan senjata dan kembali ke jalur diplomasi. Posisi ini sejalan dengan kepentingan Tiongkok mengamankan pasokan energi dari Timur Tengah .
Korea Utara menyatakan dukungan penuh kepada Iran. Mereka mengecam keras agresi AS-Israel yang menghancurkan fondasi perdamaian dan keamanan regional. Pyongyang juga mengakui pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Langkah ini memperkuat poros anti-AS di kawasan .
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berada dalam posisi sulit. Mereka menjadi tuan rumah fasilitas militer AS namun juga berbatasan langsung dengan Iran. Serangan balasan Iran menargetkan infrastruktur strategis di negara-negara tersebut. Akibatnya, mereka terpaksa terlibat dalam konflik yang tidak mereka inginkan .
“Baca Juga : ADSP Bakauheni Terapkan Single Tarif Penyeberangan Arus Balik”




Leave a Reply