marketingcollections -Sebuah studi baru mengungkap fakta mengkhawatirkan. Pemanasan iklim menyebabkan penurunan kadar oksigen di sungai-sungai global. Fenomena ini berlangsung luas dan terus-menerus. Kondisi ini mengancam ekosistem air tawar. Studi ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances. Penelitian dipimpin oleh para ilmuwan dari Institut Geografi dan Limnologi Nanjing (NIGLAS), bagian dari Akademi Ilmu Pengetahuan China.
Tim peneliti menganalisis data selama hampir 40 tahun. Mereka mencakup lebih dari 21.000 ruas sungai di seluruh dunia. Para peneliti menggunakan pembelajaran mesin canggih. Teknologi ini melacak perubahan kadar oksigen terlarut. Periode analisis dari tahun 1985 hingga 2023.
Hasilnya menunjukkan tren penurunan oksigen yang signifikan. Oksigen terlarut sangat penting bagi kehidupan akuatik. Ikan, serangga air, dan mikroorganisme membutuhkannya. Kadar oksigen rendah menyebabkan zona mati. Ekosistem kehilangan keanekaragaman hayati.
Penurunan oksigen di sungai sering disebut sebagai “deoksigenasi”. Fenomena serupa sebelumnya diketahui terjadi di lautan. Kini penelitian membuktikan sungai juga terdampak. Penyebab utamanya adalah pemanasan iklim. Air yang lebih hangat menyerap lebih sedikit oksigen. Selain itu, polusi nutrisi dari pertanian memperburuk kondisi.
Dr. Li Wei, salah satu peneliti utama, menjelaskan implikasinya. “Setiap sungai yang kehilangan oksigen akan kehilangan kemampuannya untuk mendukung kehidupan,” ujarnya. “Ini adalah ancaman tersembunyi bagi ketahanan air tawar global.”
Dampak nyata sudah terlihat di berbagai wilayah. Di Amerika Serikat, beberapa sungai besar seperti Mississippi dan Potomac melaporkan zona mati musiman. Di Eropa, sungai Thames dan Rhine juga mengalami penurunan oksigen. Negara berkembang dengan sanitasi buruk menghadapi tantangan lebih berat.
Baca juga:Prabowo Minta Stok Pangan Nasional Dijaga di Tengah Krisis Global
Pemanasan Global Turunkan Kadar Oksigen, Sungai Tropis Paling Parah Terdampak
Sebuah studi baru mengungkap fakta mengkhawatirkan. Pemanasan iklim menyebabkan penurunan kadar oksigen di sungai-sungai dunia. Fenomena ini berlangsung luas dan terus-menerus. Kondisi ini mengancam ekosistem air tawar. Studi ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances. Penelitian dipimpin ilmuwan dari Institut Geografi dan Limnologi Nanjing (NIGLAS), China. Tim peneliti menganalisis data hampir 40 tahun. Mereka mencakup lebih dari 21.000 ruas sungai global. Pembelajaran mesin canggih digunakan untuk melacak perubahan oksigen terlarut periode 1985–2023.
Sungai-sungai tropis mengalami dampak paling parah. Wilayah tropis berada di antara 20 derajat lintang selatan dan 20 derajat lintang utara. Banyak sungai di India termasuk dalam kategori ini. Temuan ini bertentangan dengan perkiraan sebelumnya. Para ilmuwan dulu menduga sungai lintang tinggi yang akan paling terdampak akibat pemanasan yang lebih cepat di kawasan Arktik. Namun sungai tropis sejak awal sudah memiliki kadar oksigen rendah. Mereka kehilangan oksigen lebih cepat lagi. Kondisi ini membuat sungai tropis sangat rentan. Peristiwa kekurangan oksigen ekstrem dapat mematikan ikan dan biota akuatik lainnya.
Para peneliti menemukan penyebab utama penurunan oksigen. Penurunan kelarutan oksigen akibat perubahan iklim menyumbang hampir 63 persen. Air yang lebih hangat memang tidak dapat menahan oksigen sebanyak air dingin. Perubahan metabolisme ekosistem menyumbang 12 persen. Faktor ini tercermin dari perubahan suhu, cahaya, dan aliran air. Gelombang panas juga berperan signifikan. Studi menemukan peristiwa panas ekstrem bertanggung jawab atas hampir 23 persen deoksigenasi sungai global. Gelombang panas mempercepat laju penurunan kadar oksigen sebesar 0,01 miligram per liter per dekade dibanding kondisi normal.
“Setiap sungai yang kehilangan oksigen akan kehilangan kemampuannya untuk mendukung kehidupan,” ujar Dr. Li Wei, salah satu peneliti utama. “Ini ancaman tersembunyi bagi ketahanan air tawar global.” Dampak nyata sudah terlihat di berbagai wilayah. Sungai Mississippi dan Potomac di AS mengalami zona mati musiman. Sungai Thames dan Rhine di Eropa juga melaporkan penurunan oksigen.
Sungai Tropis Paling Parah Terancam
Sebuah studi baru mengungkap fakta mengkhawatirkan. Pemanasan iklim menurunkan kadar oksigen di sungai dunia. Fenomena ini berlangsung luas dan terus-menerus. Kondisi ini mengancam ekosistem air tawar. Studi ini terbit di jurnal Science Advances. Penelitian dipimpin ilmuwan dari Institut Geografi dan Limnologi Nanjing (NIGLAS), China. Tim peneliti menganalisis data hampir 40 tahun. Mereka mencakup lebih dari 21.000 ruas sungai global. Pembelajaran mesin canggih melacak perubahan oksigen terlarut periode 1985–2023.
Sungai tropis mengalami dampak paling parah. Wilayah tropis terletak antara 20°LU hingga 20°LS. Banyak sungai di India termasuk kategori ini. Temuan ini bertentangan dengan perkiraan sebelumnya. Ilmuwan dulu menduga sungai lintang tinggi paling terdampak. Namun sungai tropis sejak awal sudah rendah oksigen. Mereka kehilangan oksigen lebih cepat lagi. Kondisi ini membuat sungai tropis sangat rentan. Kekurangan oksigen ekstrem dapat mematikan ikan dan biota akuatik.
Penurunan kelarutan oksigen akibat perubahan iklim menjadi penyebab utama. Faktor ini menyumbang hampir 63 persen penurunan. Air hangat memang tidak dapat menahan banyak oksigen. Perubahan metabolisme ekosistem menyumbang 12 persen. Gelombang panas bertanggung jawab atas hampir 23 persen deoksigenasi. Peristiwa panas ekstrem mempercepat laju penurunan 0,01 mg/l per dekade.
Baca juga:DPR Dorong Pemerintah Susun Regulasi Perlindungan Industri Rokok




Leave a Reply