marketingcollections -Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melihat peluang di balik pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini dimanfaatkan secara strategis untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. “Selalu ada tantangan, pasti ada peluangnya. Peluang pelemahan rupiah ini kita garap,” ujar Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, di sela-sela gelaran Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Badung, Jumat (29/5/2026).
Ayu menjelaskan bahwa pelemahan rupiah menciptakan persepsi value for money yang signifikan bagi turis asing. Daya beli mereka terhadap barang dan jasa di Indonesia meningkat. “Dulu Rp1 juta bisa beli apa, sekarang daya belinya bertambah. Ini menjadi daya tarik tersendiri,” jelasnya. Dampak positif mulai terlihat, terutama dari negara tetangga. “Terbukti sekarang kita lihat negara tetangga, Malaysia, kan cukup kuat mata uangnya. Ketika kita melemah, value mereka untuk ke sini malah berlipat-lipat,” katanya.
Data Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menunjukkan peningkatan kunjungan wisman, khususnya ke Bali. Namun, Kemenpar juga mengingatkan tantangan seperti biaya impor bahan baku yang tinggi dan dampak geopolitik pada harga tiket pesawat. Meski demikian, Indonesia tetap dipersepsikan sebagai destinasi yang terjangkau di tengah ketatnya persaingan pariwisata regional.
BBTF 2026 menjadi ajang untuk mendorong transaksi. Tahun ini, fokus pasar bergeser dari negara-negara jarak jauh (Eropa/Amerika) ke negara tetangga di ASEAN, Asia, dan Afrika. Ketua Panitia BBTF 2026, I Putu Winastra, menargetkan transaksi sebesar Rp6,8 triliun. Angka ini turun 12 persen dari capaian tahun lalu (Rp7,84 triliun) karena wisatawan jarak dekat cenderung memiliki length of stay lebih pendek. Jumlah peserta melampaui target: 407 buyers dari 44 negara dan 286 sellers dari 4 negara. BBTF 2026 mengusung tema “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Cultures, and Sustainable Heritage” dengan fokus promosi kuliner nusantara.
Baca juga:PIHPS: Harga Cabai Rawit Rp83.850 per Kg dan Telur Ayam Rp29.250 per Kg
Tantangan Geopolitik Memaksa Fokus ke Wisatawan Asia dan Australia
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melihat peluang dari pelemahan rupiah. Harga paket wisata di Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara (wisman). Pelaku usaha diminta gencar promosi agar makin banyak wisatawan memilih Indonesia.
Namun di balik peluang, ada tantangan besar. Konflik geopolitik global menyebabkan harga bahan bakar melonjak. Biaya penerbangan tinggi membuat calon wisatawan berpikir panjang. Wisatawan dari Eropa juga harus melewati Timur Tengah yang rawan konflik. Banyak ketakutan menghantui perjalanan mereka.
Menghadapi situasi ini, Kemenpar mengubah strategi. Mereka beralih dari ketergantungan pada wisatawan jarak jauh. Target kini menyasar wisatawan terdekat dari kawasan Asia dan Australia. “Cari cara mitigasinya, kita ganti. Dulunya kita mencari jauh-jauh ke Eropa dan Amerika. Sekarang realistis: Asia, ASEAN, Australia. Memang pasar Eropa-Amerika lama tinggalnya panjang 3 minggu sampai sebulan. Sedangkan dari Asia sebentar-sebentar. Ini harus dikombinasi,” tutur Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, di sela Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Badung, Jumat (29/5/2026).
Dampak positif mulai terlihat. Kunjungan wisatawan Malaysia meningkat karena nilai tukar ringgit yang kuat terhadap rupiah. BBTF 2026 menargetkan transaksi Rp6,8 triliun, turun 12 persen dari capaian tahun lalu (Rp7,84 triliun). Penurunan ini karena wisatawan jarak dekat memiliki length of stay lebih pendek. Namun jumlah peserta melampaui target: 407 buyers dari 44 negara dan 286 sellers dari 4 negara.
Kemenpar menekankan perlunya kombinasi pasar. Pasar jarak jauh tetap penting, tetapi pasar jarak dekat harus digenjot. Dengan strategi adaptif, Indonesia diharapkan tetap menjadi destinasi favorit. Promosi masif dan inovasi paket wisata menjadi kunci. Pariwisata Indonesia pun diharapkan bangkit dan bersaing di tengah ketidakpastian global.
Pelemahan Rupiah Bikin Paket Wisata Lebih Terjangkau
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melihat peluang dari pelemahan rupiah. Harga paket wisata di Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara (wisman). Pelaku usaha diminta gencar promosi agar makin banyak wisatawan memilih Indonesia.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menyatakan bahwa pelemahan rupiah menciptakan persepsi value for money bagi turis asing. “Dulu Rp1 juta bisa beli apa, sekarang daya belinya bertambah. Ini menjadi daya tarik tersendiri,” ujarnya di sela-sela Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Badung, Jumat (29/5/2026).
Namun di balik peluang, ada tantangan besar. Konflik geopolitik global menyebabkan harga bahan bakar melonjak. Biaya penerbangan tinggi membuat calon wisatawan berpikir panjang. Wisatawan dari Eropa juga harus melewati Timur Tengah yang rawan konflik. Banyak ketakutan menghantui perjalanan mereka.
Menghadapi situasi ini, Kemenpar mengubah strategi. Mereka beralih dari ketergantungan pada wisatawan jarak jauh. Target kini menyasar wisatawan terdekat dari kawasan Asia dan Australia. “Cari cara mitigasinya, kita ganti. Dulunya kita mencari jauh-jauh ke Eropa dan Amerika. Sekarang realistis: Asia, ASEAN, Australia. Memang pasar Eropa-Amerika lama tinggalnya panjang 3 minggu sampai sebulan. Sedangkan dari Asia sebentar-sebentar. Ini harus dikombinasi,” tutur Ayu Marthini.
Dampak positif mulai terlihat. Kunjungan wisatawan Malaysia meningkat karena nilai tukar ringgit yang kuat terhadap rupiah. BBTF 2026 menargetkan transaksi Rp6,8 triliun, turun 12 persen dari capaian tahun lalu (Rp7,84 triliun). Penurunan ini karena wisatawan jarak dekat memiliki length of stay lebih pendek. Namun jumlah peserta melampaui target: 407 buyers dari 44 negara dan 286 sellers dari 4 negara.
Kemenpar menekankan perlunya kombinasi pasar. Pasar jarak jauh tetap penting, tetapi pasar jarak dekat harus digenjot. Dengan strategi adaptif, Indonesia diharapkan tetap menjadi destinasi favorit. Promosi masif dan inovasi paket wisata menjadi kunci. Pariwisata Indonesia pun diharapkan bangkit dan bersaing di tengah ketidakpastian global.




Leave a Reply