marketingcollections – Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Maret 2026 sebesar 0,41 persen secara bulanan. Angka ini melambat dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 0,68 persen. Perlambatan ini menandakan tekanan harga mulai mereda. Sebelumnya, inflasi sempat meningkat di awal tahun.
Indeks Harga Konsumen naik dari 110,57 pada Februari menjadi 110,95 pada Maret. Inflasi tahun kalender hingga Maret mencapai 0,94 persen. Data ini menunjukkan stabilitas harga yang terjaga. Pergerakan IHK mencerminkan dinamika permintaan dan pasokan barang.
Pendorong utama inflasi bulanan masih berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mencatat inflasi 1,07 persen secara bulanan. Andil terhadap inflasi umum mencapai 0,32 persen. Komoditas pangan masih menjadi penyumbang utama tekanan harga.
Perlambatan inflasi Maret memberikan ruang bagi stabilitas ekonomi. Bank Indonesia memiliki kelonggaran dalam kebijakan moneter. Daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tren harga yang melandai. Pemerintah terus memantau perkembangan harga pangan.
Tekanan inflasi diperkirakan tetap terkendali ke depan. Koordinasi lintas kementerian menjaga ketersediaan pasokan. Distribusi barang dipastikan berjalan lancar. Stabilitas harga menjadi fondasi pemulihan ekonomi nasional. Masyarakat diharapkan dapat berbelanja dengan tenang.
“Baca Juga : Seskab: Prabowo Pererat Kemitraan Bilateral Korsel“
Inflasi Maret 2026 Melambat ke 0,41% Secara Bulanan, Pangan Masih Jadi Pendorong Utama
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Maret 2026 sebesar 0,41 persen secara bulanan. Angka ini melambat dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 0,68 persen. Perlambatan ini menandakan tekanan harga mulai mereda setelah sempat meningkat di awal tahun. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan komoditas pangan masih menjadi pendorong utama inflasi.
Komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga antara lain ikan segar, daging ayam ras, dan beras. Telur ayam ras, cabai rawit, serta daging sapi turut menyumbang tekanan inflasi. Bensin dan tarif angkutan antarkota juga memberi andil terhadap kenaikan harga. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 1,07 persen secara bulanan dengan andil 0,32 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas menahan laju inflasi. Tarif angkutan udara dan emas perhiasan tercatat menyumbang deflasi pada Maret. Kedua komoditas ini membantu meredam kenaikan harga secara keseluruhan. Efek penahan inflasi ini membuat tekanan harga tidak lebih tinggi.
Dibandingkan bulan sebelumnya, tekanan inflasi Maret memang lebih rendah. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya efek basis rendah yang terjadi pada awal 2025. Saat itu, pemerintah memberikan diskon tarif listrik yang sempat menekan harga. Kini efek tersebut mulai berkurang.
Secara tahunan, inflasi Maret 2026 tercatat 3,48 persen year on year. Angka ini turun cukup signifikan dari Februari 2026 yang mencapai 4,76 persen. Meski melandai, inflasi tahunan masih tergolong tinggi. Pemerintah dan Bank Indonesia terus berkoordinasi menjaga stabilitas harga ke depan.
Tarif Listrik dan Emas Jadi Penyumbang Utama Inflasi Tahunan 3,48% di Maret 2026
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Maret 2026 sebesar 3,48 persen year on year. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Andil kelompok ini mencapai 1,08 persen, terutama dipicu oleh kenaikan tarif listrik. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberi kontribusi besar dari kenaikan harga emas perhiasan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi sumber tekanan inflasi dengan andil hampir 1 persen secara tahunan. Komoditas pangan seperti beras, daging ayam ras, dan telur terus mendorong kenaikan harga. Tekanan inflasi tahunan masih cukup tinggi meskipun inflasi bulanan menunjukkan perlambatan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan seluruh jenis inflasi kompak mengalami kenaikan secara tahunan. Inflasi inti tercatat 2,52 persen year on year. Emas perhiasan, biaya pendidikan, hingga sewa rumah menjadi pendorong utama inflasi inti. Komponen ini mencerminkan tekanan harga dari sisi permintaan domestik.
Inflasi harga diatur pemerintah mencapai 6,08 persen year on year. Tarif listrik dan rokok menjadi pemicu utama lonjakan kelompok ini. Kebijakan penyesuaian tarif listrik berdampak signifikan terhadap inflasi tahunan. Sementara itu, inflasi harga bergejolak tercatat 4,24 persen year on year. Beras, daging ayam ras, dan telur menjadi komoditas pendorong utama.
Tekanan inflasi dari berbagai komponen ini menunjukkan dinamika harga yang kompleks. Pemerintah terus berkoordinasi menjaga stabilitas harga. Pengendalian inflasi pangan menjadi prioritas utama ke depan. Stabilitas harga listrik dan energi juga terus dimonitor. Dengan koordinasi yang baik, tekanan inflasi diharapkan semakin terkendali.
“Baca Juga : Menhaj Jelaskan Keberangkatan Haji 2026 di Tengah Konflik“




Leave a Reply