- MarketingCollections -Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara menyoroti pentingnya kesiapan industri lokal dalam pengembangan energi baru dan terbarukan. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat ekosistem energi bersih nasional. Selain itu, kesiapan industri juga memengaruhi daya saing investasi di sektor tersebut.
Direktur BPI Danantara, Lucky Lukman, menyatakan bahwa pengembangan EBT harus dilakukan secara bertahap. Pendekatan ini mempertimbangkan kesiapan industri dalam negeri secara menyeluruh. Ia menilai strategi tersebut penting agar pengembangan berjalan efektif dan berkelanjutan.
Lucky menekankan pentingnya penerapan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN. Kebijakan ini dapat memberikan manfaat ekonomi bagi industri nasional. Selain itu, TKDN juga mendukung pertumbuhan sektor manufaktur lokal.
“Pengembangan EBT harus melihat kesiapan industri sekaligus manfaat ekonomi,” ujar Lucky. Ia menambahkan bahwa penggunaan komponen lokal dapat meningkatkan nilai tambah proyek energi. Hal ini juga menjadi faktor penting dalam menarik minat investor.
Menurutnya, produksi lokal tidak hanya menekan biaya operasional. Teknologi berbasis TKDN juga meningkatkan kepercayaan investor terhadap proyek energi bersih. Namun, ia mengingatkan agar strategi lokalisasi tidak justru meningkatkan biaya secara signifikan.
“Strategi harus memastikan pengembangan lebih lokal tanpa membuat biaya meningkat,” katanya. Pernyataan ini menegaskan perlunya keseimbangan antara efisiensi dan kemandirian industri. Perencanaan matang menjadi kunci keberhasilan implementasi.
Baca juga:“Pemerintah Siap Intervensi Penyelesaian Utang Whoosh”
RUPTL 2025-2034 Dorong Dominasi EBT dan Percepat Transisi Energi Nasional
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menjadi acuan utama pembangunan listrik nasional. Dokumen ini menegaskan arah transisi energi Indonesia menuju sumber yang lebih bersih. Pemerintah menargetkan peningkatan signifikan kapasitas pembangkit dalam satu dekade ke depan.
Total penambahan kapasitas listrik direncanakan mencapai 69,5 gigawatt. Dari jumlah tersebut, sekitar 76 persen berasal dari energi baru dan terbarukan. Target ini menjadikan RUPTL periode terbaru sebagai yang paling ramah lingkungan. Langkah ini mencerminkan komitmen kuat terhadap pengurangan emisi karbon.
Direktur BPI Danantara, Lucky Lukman, menilai rencana ini membutuhkan kesiapan industri nasional. Ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas produksi dalam negeri. Kesiapan tersebut diperlukan agar implementasi berjalan efisien dan berkelanjutan.
“RUPTL menjadi acuan strategis pengembangan sistem ketenagalistrikan nasional,” ujar Lucky. Ia menambahkan bahwa perencanaan harus mempertimbangkan kemampuan industri lokal. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan antara biaya dan kemandirian energi.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menyoroti urgensi transisi energi. Ia menyebut perubahan menuju energi bersih tidak dapat dihindari. Transisi ini juga menjadi peluang besar bagi pertumbuhan investasi nasional.
Menurut Esther, sektor energi terbarukan dapat mendorong ekonomi secara signifikan. Investasi di sektor ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, pengembangan EBT dapat meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.
Konflik Timur Tengah Dorong Percepatan Transisi Energi Bersih di Indonesia
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong perhatian pada ketahanan energi global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu ketidakpastian pasokan energi fosil. Kondisi ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan.
Ketergantungan pada energi fosil dinilai semakin berisiko dalam situasi global yang tidak stabil. Fluktuasi harga dan gangguan pasokan dapat berdampak pada perekonomian nasional. Oleh karena itu, diversifikasi energi menjadi langkah strategis yang perlu dipercepat.
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menilai transisi energi sebagai kebutuhan mendesak. Ia menekankan pentingnya pengembangan EBT yang lebih luas dan efisien. Selain itu, keberlanjutan menjadi faktor utama dalam perencanaan energi nasional.
Konflik geopolitik juga memperlihatkan pentingnya kemandirian energi. Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil. Penguatan sektor EBT dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas energi.
“Saya percaya transisi energi bukan lawan pertumbuhan ekonomi,” ujar Esther. Ia menegaskan bahwa energi bersih dapat menjadi pilar utama ekonomi. Menurutnya, transisi ini justru membuka peluang investasi dan inovasi.
Pengembangan EBT juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, sektor ini dapat meningkatkan daya saing industri nasional. Dukungan kebijakan dan investasi menjadi kunci percepatan transformasi energi.
Baca juga:“Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Impor Bahan Baku Plastik”




Leave a Reply