marketingcollections.com – Kebijakan buyback saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dinilai sebagai bentuk keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan dan prospek jangka panjang industri perbankan nasional. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal positif karena menunjukkan valuasi saham BMRI sudah berada pada level menarik bagi investor.
Menurut Associate Director BUMN Research Group LMUI, Toto Pranoto, keputusan buyback merupakan strategi tepat di tengah volatilitas pasar saham. Ia menjelaskan bahwa langkah ini menunjukkan manajemen melihat saham BMRI dalam kondisi undervalued dan berupaya memperkuat nilai pemegang saham.
Buyback Didorong Penilaian Saham Undervalued
Toto menilai buyback Bank Mandiri tidak hanya menjadi langkah korektif, tetapi juga peluang bagi peningkatan EPS. Ia menegaskan bahwa prospek BMRI tetap solid berkat dukungan indikator keuangan dan pembangunan nasional, termasuk proyek infrastruktur, hilirisasi, dan transisi energi.
Toto juga menyoroti suntikan dana Rp200 triliun dari Kementerian Keuangan yang menambah kapasitas penyaluran kredit. Ia menekankan pentingnya analisis proyek yang lebih ketat untuk menjaga rasio kredit bermasalah tetap rendah.
Manajemen Tegaskan Kepercayaan terhadap Model Bisnis Bank Mandiri
Bank Mandiri sebelumnya mengumumkan program buyback senilai Rp1,17 triliun sesuai keputusan RUPST 2025. Dana tersebut berasal dari kas internal dan ditujukan untuk menjaga kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang BMRI.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyatakan bahwa buyback adalah bukti kepercayaan manajemen terhadap kekuatan model bisnis perseroan. Ia menyebutkan bahwa saham hasil buyback juga akan mendukung program kepemilikan saham pegawai sebagai bagian dari tata kelola berkelanjutan.
Baca Juga : “Hasil Timnas Italia U-17 vs Burkina Faso U-17 di Perempatfinal Piala Dunia U-17 2025: Gli Azzurri ke Semifinal Usai Menang 1-0“
Kinerja Keuangan Tetap Tumbuh Konsisten
Bank Mandiri mencatat pertumbuhan fee-based income yang mencapai 32 persen dari total pendapatan. Peningkatan ini ditopang oleh penguatan digital banking dan aktivitas treasury yang tumbuh dua digit secara bulanan. Novita menyebut diversifikasi pendapatan dan efisiensi biaya menjadi fondasi utama penguatan kinerja keuangan.
Hingga September 2025, penyaluran kredit konsolidasi mencapai Rp1.764 triliun, sementara penghimpunan DPK sebesar Rp1.884 triliun. Keduanya tumbuh lebih tinggi dari rata-rata industri, dengan NPL terjaga di 1,03 persen.
Fundamental Kokoh Jadi Daya Tarik Investor
Novita menegaskan bahwa pencapaian tersebut mencerminkan keberhasilan Bank Mandiri dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan prinsip prudential banking. Ia menyebut momentum pertumbuhan tersebut menjadi bukti solidnya strategi yang dijalankan.
Di tengah prospek ekonomi domestik yang masih ekspansif dan dukungan pemerintah terhadap pembangunan, Bank Mandiri diprediksi tetap menjadi salah satu emiten perbankan dengan prospek paling menarik tahun 2026.
Prospek Jangka Panjang Tetap Cerah
Toto menutup analisanya dengan menekankan bahwa buyback tidak hanya mengonfirmasi kekuatan fundamental BMRI, tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang. Dengan likuiditas kuat, strategi ekspansi yang terukur, dan keselarasan dengan agenda nasional, Bank Mandiri diyakini akan tetap menjadi magnet bagi investor domestik dan global.
Langkah buyback menjadi bukti bahwa BMRI siap menjaga daya saing di industri perbankan yang terus berkembang, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu bank terbesar dan paling stabil di Indonesia.
Baca Juga : “Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia U-22 vs Timnas Myanmar U-22 di SEA Games 2025, Live di RCTI!“




Leave a Reply