MarketingCollections -PT Bank QNB Indonesia Tbk mencatat pertumbuhan aset yang stabil sepanjang 2025. Total aset mencapai Rp13,2 triliun, naik 3 persen secara tahunan dari Rp12,9 triliun pada 2024.
Direktur Utama Nick Groene menyatakan kinerja ini mencerminkan disiplin perusahaan dalam menjaga kualitas aset. Bank juga memastikan likuiditas tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
Nick menjelaskan bahwa strategi bisnis difokuskan pada penguatan fundamental. Pendekatan ini membantu bank tetap tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. Stabilitas menjadi prioritas utama di tengah dinamika industri perbankan.
“Kinerja bank di 2025 mencerminkan ketangguhan model bisnis kami,” ujar Nick. Ia menambahkan perusahaan terus memperkuat struktur keuangan dan operasional. Langkah ini dilakukan untuk menjaga daya saing jangka panjang.
Selain itu, Bank QNB Indonesia mencatat pertumbuhan kredit bersih yang signifikan. Kredit meningkat 18 persen secara tahunan hingga akhir 2025. Angka ini jauh melampaui rata-rata industri perbankan nasional.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan pertumbuhan kredit industri sekitar 9,6 persen yoy. Kinerja Bank QNB Indonesia yang lebih tinggi mencerminkan ekspansi yang agresif namun terukur.
Baca juga:“Harga Pangan Jumat Ini: Cabe Rawit Rp119.400/Kg, Daging Ayam Rp52.150/Kg”
Bank QNB Indonesia Catat Kredit ESG Perdana dan Perbaikan Kualitas Aset 2025
PT Bank QNB Indonesia Tbk memperkuat komitmen keuangan berkelanjutan sepanjang 2025. Bank berhasil menyalurkan kredit berbasis ESG untuk pertama kalinya. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam mendukung praktik bisnis bertanggung jawab.
Direktur Utama Nick Groene menyatakan inisiatif ini menunjukkan arah strategis perusahaan. Bank berupaya mengintegrasikan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam pembiayaan. Pendekatan ini sejalan dengan tren global sektor keuangan.
Selain itu, kinerja keuangan bank tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Bank QNB Indonesia mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp50,8 miliar. Capaian ini mencerminkan stabilitas operasional di tengah tantangan ekonomi.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga tumbuh 11 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini menunjukkan peningkatan kepercayaan nasabah terhadap layanan bank. Likuiditas yang kuat mendukung ekspansi kredit yang sehat.
Kualitas aset juga mengalami perbaikan signifikan. Rasio kredit bermasalah atau NPL bruto turun menjadi 2,2 persen. Pada tahun sebelumnya, rasio tersebut berada di level 2,7 persen. Penurunan ini menunjukkan pengelolaan risiko yang lebih efektif.
Bank juga mencatat penurunan provisi kredit. Hal ini mencerminkan peningkatan kualitas portofolio pembiayaan. Penerapan prinsip kehati-hatian menjadi kunci dalam menjaga stabilitas keuangan.
Secara industri, penerapan ESG semakin menjadi fokus lembaga keuangan. Bank yang mengadopsi prinsip ini dinilai lebih berkelanjutan dalam jangka panjang. QNB Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi pasar.
Fokus Perbankan Korporasi dan Ekspansi Digital pada 2026
PT Bank QNB Indonesia Tbk menetapkan strategi bisnis baru untuk mendorong pertumbuhan pada 2026. Perusahaan akan fokus pada penguatan lini perbankan korporasi dan institusional.
Direktur Utama Nick Groene menyatakan pengembangan kapabilitas digital menjadi prioritas utama. Bank juga akan memperkuat sistem operasional guna meningkatkan efisiensi layanan.
Nick menjelaskan bahwa investasi pada infrastruktur digital akan terus ditingkatkan. Langkah ini bertujuan mendukung kebutuhan nasabah yang semakin kompleks. Digitalisasi juga membantu mempercepat proses bisnis dan layanan.
Selain itu, bank akan memanfaatkan jaringan regional QNB Group. Kolaborasi ini membuka peluang ekspansi bisnis lintas negara. Bank menargetkan peningkatan transaksi perdagangan dan investasi internasional.
Perusahaan juga akan memperdalam hubungan dengan nasabah korporasi tier-1. Fokus ini mencakup klien konglomerasi dengan kebutuhan pembiayaan besar. Strategi tersebut diharapkan memperkuat portofolio bisnis bank.
“Pada 2026, kami akan menggali peluang untuk mendukung perdagangan lintas negara,” ujar Nick. Ia menegaskan bahwa strategi ini didukung fundamental perusahaan yang kuat. Bank tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko.
Secara industri, permintaan layanan perbankan korporasi terus meningkat. Globalisasi dan perdagangan internasional mendorong kebutuhan pembiayaan lintas negara. Bank yang memiliki jaringan global memiliki keunggulan kompetitif.
Baca juga:“BPJS Ketenagakerjaan Permudah Klaim dengan Antrean Online di Lapak Asik”




Leave a Reply